Tudung Group | Garudafood | Suntory Garuda Beverage | Sinar Niaga Sejahtera

Tudung Group | Garudafood | Suntory Garuda Beverage | Sinar Niaga Sejahtera

Faishal Arifin, Perajin Perak yang Juga Social Entrepreneur

Sumber Berita RadarMalang

Satu tahun petualangan Faishal Arifin di Kalimantan, akhirnya menguasai skill membuat kerajinan perak. Berbekal skill itu, dia pun pulang ke Kota Malang dan memulai bisnisnya dengan bekal majalah bekas.

DEDIK SUHARMANTO

Langkah demi langkah pun dijalani Faishal sepulang dari Martapura belajar membuat kerajinan perak pada 2009 silam. Dia keliling dari satu tempat ke tempat lain demi mencari kerja. Faishal pun mulai angkat tangan. Suatu hari langkah kakinya ingin ke Pasar Comboran, Kota Malang. Keinginannya satu demi mendapatkan inspirasi dari majalah bekas yang banyak dijajakan secara kiloan di pasar tersebut.

Tanpa bekal uang sepeser pun yang ada di kantongnya, Faishal membulatkan tekad berangkat ke Pasar Comboran dari Jalan Ikan Paus, Kemirahan, Kecamatan Lowokwaru. ”Mau bagaimana lagi, waktu itu saya belum memiliki kendaraan,” kenang bapak dua putra ini. Sesampainya di sana, dilihatnya sebuah majalah bekas yang merupakan katalog perhiasan.

Dia pun tertarik dengan majalah itu, dimintanya pada sang penjual yang kemudian berbaik hati memberikan itu secara cuma-cuma. Faishal pun pulang dengan berbagai persiapan. Sesampainya di rumah, diguntinglah majalah itu, menjadi gambar-gambar kecil soal perhiasan. Lalu ditata serapi mungkin di dalam map yang disulap menjadi sebuah katalog. Dalam pikirannya sudah terbayang, ke mana dia akan pergi besok hari membawa map tersebut.

Kantor Bupati Malang yang berada di depan pusat perbelanjaan Plaza Gajah Mada menjadi jujukannya. Dia masih ingat, bagaimana melewati birokrasi perizinan hingga sukses bertemu dengan seorang ibu-ibu yang kemudian menjadi pelanggan pertamanya. Perempuan tersebut tertarik dengan desain perhiasan yang ditunjukkan Faishal. Memang majalah yang diguntingnya itu berasal dari katalog perhiasan luar negeri.

Negosiasi harga pun dilakukan, perempuan tersebut setuju dengan harga yang disepakati. Namun, di sisi lain Faishal mengajukan persyaratan yakni meminta down payment (DP) dibayar sebesar 60 persen. ”Kala itu, pemesan perhiasan tersebut sempat tersirat rasa curiga,” ujarnya.

Dia tak habis akal, diyakinkannya perempuan tersebut dengan beberapa bukti, yakni KTP asli beserta fotokopinya yang dia serahkan. Perempuan itu pun luluh dan bersedia membayar asalkan dalam waktu seminggu barang sudah jadi. Kini, Faishal menghadapi masalah baru, meski mendapatkan modal agar bisa mendapatkan bahan baku. Namun, peralatan pembuatan perhiasan perak tak satu pun dimilikinya. ”Kemudian saya teringat seorang rekan yang tinggal di Kota Batu dan bekerja di toko perhiasan,” kenang pria kelahiran 3 Juli 1987 ini.

Rekan Faishal tersebut pun diajak bernegosiasi. Dia menyediakan bahan dan sebuah orderan dengan contoh gambar yang lengkap. Dia pun bersedia, sambil Faishal juga turun tangan membantu proses pembuatan perhiasan itu. Selepas seminggu, perhiasan pertama tersebut pun selesai, pelanggan pertamanya ini puas dengan hasil dan ketepatan waktu yang diberikan.

Dari sini kemudian keberuntungannya berlanjut, dari perempuan tersebut perhiasan perak Faishal mulai kebanjiran orderan. Namun, kembali dia menemui permasalahan untuk mengatasi begitu banyak pesanan dalam waktu yang lebih sempit yaitu sekitar satu bulan. Rekannya pun dilobi, ditariknya menjadi seorang karyawan dengan menjanjikan gaji serta fasilitas yang jauh lebih baik. Dari sinilah, Faishal kemudian mendapatkan karyawan pertamanya yang tetap setia hingga kini.

Sebulan berlalu, order perhiasan pun sukses diselesaikan semua. Rupanya produk hasil kreasi Faishal mulai banyak diminati. Hingga akhirnya sampai juga produknya tersebut ke tangan Wali Kota Malang Moch. Anton. ”Abah Anton kemudian menjadi langganan tetap saya, sekaligus yang membawa produk saya hingga ke kota lain di Indonesia,” ujar alumni Jurusan Manajemen Universitas Widyagama Malang ini.

Faishal pun secara aktif sering diundang ke pameran-pameran produk usaha kecil dan menengah. Dari pameran itu pula yang mengenalkannya ke eksportir. Usahanya ini cukup membuat terkejut pengusaha tersebut yang kemudian mengirimkan produknya ke Ethiopia. Gayung bersambut, berturut-turut negara tujuan ekspor produknya semakin banyak yakni Kanada dan Brunei Darussalam.

Dari sini kemudian dia sadar, tenaganya masih kurang dalam memenuhi seluruh kebutuhan ekspor ke negara tersebut. Faishal tak hilang akal, direkrutnya beberapa perajin kecil yang ada di Kota Malang, Wajak, dan Pujon, Kabupaten Malang. Diberinya pelatihan bagaimana membuat perhiasan perak yang berkualitas, peralatan lengkap pun dia sediakan sebagai modal serta tak lupa hasil dari para perajin tersebut dikumpulkannya.

Hari demi hari semakin banyak yang bergabung dengan industri kecilnya. Penghargaan pun mulai berdatangan, undangan dari sejumlah talk show terkenal turut diterimanya. Tanpa dia sadari, kini Faishal disebut sebagai social entrepreneur muda yang disegani. ”Tidak pernah terbayangkan saya akhirnya hingga di posisi ini, padahal apa yang saya lakukan belum banyak bagi orang lain,” ujarnya. (*/c2/lia)
Share on Google Plus

About Juru Tulis

Menjadikan aktivitas Berdagang serta Berjualan sebagai profesi idaman masyarakat Indonesia. Bisnis bukan hanya Untung dan Rugi, namun lebih dari itu Bisnis adalah urusan Surga dan Neraka.
    Blogger Comment

0 comments:

Posting Komentar